Belajar terlihat dalam interaksi.
Dokumentasi kegiatan BISA PandAI Numerasi. Setiap foto dan video disertai cerita singkat tentang apa yang terjadi di ruang belajar.
Sorotan dokumentasi
Hari pertama, ketika semuanya dimulai
Pembukaan BISA PandAI Numerasi di Lebak pada 5 Oktober 2026. Putar film dokumentasi untuk mengikuti perjalanan program dari pelatihan guru hingga kelas.
Semua dokumentasi
Pembukaan BISA PandAI Numerasi di Lebak pada 5 Oktober 2026. Putar film dokumentasi untuk mengikuti perjalanan program dari pelatihan guru hingga kelas.
Di papan tertulis pohon bilangan: 6 bisa disusun dari 1 dan 5, 2 dan 4, atau 3 dan 3. Sebelum menuliskannya sebagai angka, fasilitator mengajak guru memegang stik warna dan menghitung bersama.
Siswa mengepalkan tangan dan bersorak saat mengikuti kegiatan. Semangat seperti ini yang ingin dijaga ketika numerasi dibawa ke ruang kelas.
Di papan, angka 7 disusun dari 1 dan 6, 2 dan 5, lalu 3 dan 4. Fasilitator mengangkat kedua tangan dan mengajak peserta menghitung bersama sebelum hasilnya ditulis.
Di Lombok, guru dan siswa peserta mengikuti sesi dari kursi yang berdampingan. Mereka memulai perjalanan program dari pengalaman yang sama.
Seorang guru mengangkat jari dengan wajah berbinar, sementara rekan di depannya ikut menunjukkan jawaban. Berani menjawab lebih dulu menjadi bagian dari suasana belajar.
Dua siswa membuka perlengkapan belajar BISA PandAI Numerasi. Senyum lebar sudah muncul bahkan sebelum kegiatan dimulai.
Peserta menunjukkan jawaban dengan jari, lalu saling mencocokkan. Suasana yang cair membuat guru berani mencoba, keliru, dan mencoba lagi, persis seperti yang kelak mereka harapkan dari siswa.
Seorang siswi menyimak penjelasan dengan serius pada pembukaan program di Lombok. Di belakangnya, guru dan siswa lain mengikuti sesi yang sama.
Seorang siswa menuliskan langkah hitungannya sementara fasilitator memperhatikan dari dekat. Pertanyaan yang diajukan sederhana: bagaimana kamu sampai ke jawaban itu?
Dua peserta membandingkan catatan sebelum sesi berlanjut. Percakapan singkat di bangku sering menjadi tempat sebuah konsep mulai terasa jelas.
Tiga siswa dan dua fasilitator memperagakan isyarat jari yang sama di depan panggung. Gerakan sederhana membuat suasana belajar terasa dekat dan menyenangkan.
Fasilitator berkeliling membagikan dan memeriksa lembar kerja. Setiap guru mengerjakan sendiri lebih dulu, baru kemudian hasilnya dibahas bersama di depan kelas.
Ransel masih di punggung, tetapi perhatiannya sudah ke depan kelas. Hari pertama di Lombok dimulai dengan rasa ingin tahu.
Sesi bersama siswa dibuka dengan pertanyaan, bukan rumus. Siswa duduk berkelompok di meja masing-masing, menyimak, lalu mencoba menjawab dengan kata-kata mereka sendiri.
Peserta saling menunjukkan jawaban dengan jari lalu tersenyum ketika ternyata cocok. Cara sederhana ini membuat semua orang di ruangan ikut terlibat.
Siswi menampilkan tarian dengan selendang oranye di depan tamu dan peserta. Kegiatan numerasi di Lebak dibuka dengan karya siswa daerahnya sendiri.
Siswa, guru, dan fasilitator berfoto bersama di depan panggung sambil membentuk isyarat dengan jari. Satu hari kegiatan ditutup dengan kebersamaan.

